Kecerdasan Burung Hantu

1s

Di sebuah rumah di perkotaan, seorang anak bernama Jona memelihara beberapa jenis burung, yaitu merak, beo, cendrawasih, kakatua, dan burung hantu. Ketika Jona atau orang lain tidak melihat, kelima burung ini akan berbicara satu sama lain.

“Hari ini Jona memberiku parfum. Ciumlah, buluku sangat harum,” kata merak sambil memamerkan keindahan bulunya. Burung-burung membau bulu merak dari tempat mereka masing-masing.

“Kau benar. Kau sangat harum, dan kau juga terlihat sangat cantik!” puji burung beo. “Tapi tadi Jona terus tertawa karena aku menghiburnya dengan suara-suara lucu,” ujarnya dengan gembira! Burung beo memang burung yang paling pandai menghibur tuannya.

“Ya, kau memang lucu setiap saat,” puji cendrawasih. “Tapi tadi Jona memandikanku. Lihatlah, warna buluku sangat bersih.” Cendrawasih memamerkan warna bulunya yang cerah dan berkilau, sementara burung-burung lain takjub akan keindahan warna bulu yang dimiliki cendrawasih.

“Kau memang cantik!” puji kakatua kepada cendrawasih. “Hari ini Jona mengajarkanku satu lagu baru.”

Twinkle twinkle little star

How I wonder what you are

Kakatua mulai bernyanyi. Setelah selesai, teman-temannya memuji suara indah yang ia miliki. Keempat burung itu bercanda satu sama lain, sementara burung hantu hanya diam di sarangnya yang gelap. Sarang itu terbuat dari kayu yang masih berbentuk pohon, dan hanya ada pintu kecil, itu pun hanya bisa dibuka oleh Jona. Sementara burung-burung yang lain ditempatkan pada sarang besi yang dibeli dengan harga mahal. Burung hantu tahu mengapa tuannya menempatkan ia di sarang yang gelap, yaitu karena burung hantu memang lebih menyukai tempat yang gelap. Namun burung-burung lain menganggap alasan itu tidak masuk akal. Mereka mengatakan bahwa Jona sebetulnya tidak menyukai burung hantu.

Kesepian yang dirasakan burung hantu terus berlanjut. Tidak ada yang mau berbicara padanya. Apalagi karena ia terlihat tidak memiliki kelebihan, Jona pun terlihat lebih malas mengurusnya. Karena terus merasa terabaikan, burung hantu seringkali menghabiskan waktu dengan tidur. Jika ia bangun, belum tentu ada yang mau berbicara dengannya.

Suatu hari, Jona pergi berlibur ke rumah neneknya, dan ia lupa meninggalkan persediaan makanan untuk semua burung yang ia pelihara. Setelah sehari ditinggalkan tanpa makanan, kelima burung itu mulai mengeluh, karena biasanya mereka selalu diberi makan dengan teratur oleh tuannya.

Tiga hari belalu. Kelimanya sudah semakin kurus. Mereka mulai jarang berbicara satu sama lain, karena takut itu akan menghabiskan tenaga. Burung hantu merenungi nasibnya. Ia merasa kasihan pada dirinya dan teman-temannya.

Suatu siang, burung hantu melihat beberapa kumbang di pohon dekat sarangnya. Kumbang-kumbang itu adalah kumbang tahi, salah satu makanan terlezat yang pernah dirasakan oleh burung hantu. Untung saja sebuah ide menghampiri pikirannya. Ia tahu bahwa kumbang tahi sangat menyukai kotoran. Oleh karena itu, burung hantu berpikir untuk mengumpulkan kotorannya sendiri di dekat pintu sarangnya agar kumbang tahi terpancing untuk masuk ke dalam sarang itu.

Setelah menunggu selama beberapa saat, ternyata tidak ada kumbang yang menghampiri sarangnya, hingga burung hantu tertidur. Namun ketika ia bangun, ia dikagetkan oleh lima kumbang yang bermain di kotorannya. Burung hantu pun memakan kumbang-kumbang itu. Setelah merasa kenyang, ia mengintip ke balik pintunya. Ia merasa kasihan melihat keempat temannya terus diam dan lemah karena kelaparan.

“Cendrawasih!” panggilnya. “Kurasa kau cukup dekat untuk membukakan pintu sarangku dengan paruhmu. Aku baru saja makan kumbang, dan sekarang aku kenyang. Jika kau membukakan pintu sarangku, aku akan terbang mencari makanan untuk kalian,” ujar burung hantu.

Namun cendrawasih yang kelaparan itu menolak. “Aku lebih baik kelaparan daripada harus bersentuhan dengan sarangmu yang kotor,” katanya dengan sombong, sementara kakatua, merak, dan beo setuju dengan itu. Mereka benar-benar  tidak ingin berurusan dengan burung hantu.

Mendengar itu, burung hantu pun terdiam. Ia kembali menyendiri di dalam sarangnya, dan berharap tuannya cepat kembali.

Pagi berikutnya adalah waktu yang ditunggu-tunggu, karena Jona sudah kembali. Ia menyadari kelalaiannya yang meninggalkan burung perliharaan tanpa makanan. Karena itu, ia segera berlari ke dapur dan mengambil makanan untuk semua peliharaannya.

Ia kasihan melihat burung-burung itu sangat kurus dan jauh dari kata cantik. Namun ia kaget melihat burung hantu yang tetap terlihat sehat. Ia memeriksa sarang burung hantu itu, dan melihat masih ada satu kumbang tahi di sana. Jona pun mengerti taktik si burung hantu. Ia terus memuji burung hantu karena kecerdasarnnya. Sejak hari itu, burung hantu menjadi burung yang paling ia sayangi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s