Tikus dan Semut

Pagi itu ratusan semut sudah berbaris rapi untuk memindahkan rempah-rempah makanan dari rumah petani yang berada di dekat sarang mereka. Seperti biasa, tikus yang tinggal di dekat sarang mereka terus memperhatikan ribuah hewan kecil itu sambil bermalas-malasan.

“Kulihat kalian sangat sibuk,” ujarnya pada ratu semut dengan nada menyindir.

“Ya. Sebentar lagi musim dingin akan datang. Itulah sebabnya kami mengumpulkan banyak makanan untuk mencukupi kebutuhan selama musim dingin,” sahut ratu semut.

“Jika aku jadi kalian, aku tidak akan melakukan hal yang melelahkan seperti itu. Untuk mencukupi hidup selama musim dingin, aku akan memindahkan sarang untuk sementara ke rumah petani, maka aku dapat memakan semua makanan di rumahnya hingga aku kenyang,” ujar tikus sambil membayangkan ia sedang mencuri makanan dari meja makan petani.

“Tapi itu terlalu berbahaya. Jika kami memindahkan sarang ke rumah petani, mereka pasti akan sangat terganggu, lalu memusnahkan kami hingga kami semua mati,” sanggah ratu semut.

“Hahaha.” Tikus tertawa mengejek  ratu semut. “Kalian semua terlalu penakut!”

Mendengar itu, ratu semut marah, lalu meninggalkan tikus yang masih bermalas-malasan di dalam sarangnya yang berada di lubang  batang sebuah pohon besar. Tikus itu memang sangat pemalas. Setiap kali ingin makan, ia pergi ke ladang petani, lalu memakan buah dan sayuran yang ada di sana. Ratu semut sudah berkali-kali memberi nasehat agar tikus menanam tanamannya sendiri untuk dimakan sehingga ia bisa makan sesuka hati, tanpa harus mencuri dan takut ketahuan petani. Bukannya menerima nasehat itu dengan baik, tikus marah menyangga dan terus mengejek para semut yang dianggap terlalu penakut.

Salju pertama telah turun, pertanda musim dingin telah tiba. Para semut berhasil mengumpulkan makanan untuk persediaan dengan tepat waktu. Di musim dingin pertama, mereka berpesta di dalam sarang untuk menghilangkan rasa kedinginan. Sementara tikus yang tidak pernah mau mengumpulkan makanan, pergi ke ladang petani untuk mengenyangkan perutnya. Ia meninggalkan kehangatan sarangnya untuk berjalan di bawah salju.

Namun sayang, sesampainya di ladang petani, tikus tidak menemukan buah-buahan di sana. Bahkan tidak ada sehelai daun sayur pun untuk dimakan.

Mungkin petani sudah memanennya sebelum musim dingin. Itu artinya, petani pasti menyimpan banyak makanan di rumahnya saat ini, pikir tikus. Oleh karena itu, ia berjalan lagi di bawah salju menuju rumah petani. Kali ini ia benar-benar berpikir untuk tinggal di rumah petani sementara waktu, sebagaimana yang ia sarankan pada ratu tikus.

Keberuntungan sepertinya tidak berpihak pada tikus. Petani mengundang banyak orang untuk merayakan musim dingin pertama tahun itu di rumahnya. Tentu saja orang-orang yang datang akan menghalangi tikus untuk mencuri makanan.

Tikus itu duduk di bawah meja dapur. Ia sudah sangat lapar, tetapi belum mendapat kesempatan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Matanya fokus pada ayam panggang yang utuh di atas meja kecil di tengah ruangan. Karena tidak sabar ingin mengisi perut, tikus itu berlari menghampiri meja. Tidak peduli dengan keramaian yang ada. Namun nasib buruk menghampiri tikus itu sekali lagi. Seseorang melihatnya mendekati meja. Orang itu memukul kepala tikus hingga tikus itu pingsan.

Ketika sadar, tikus sudah berada di sebuah sarang yang gelap. Ia duduk dan melihat ratusan semut di sekelilingnya. Lalu ia menyadari bahwa ia sedang berada di dalam sarang semut.

“Kau baik-baik saja?” tanya ratu semut.

Bukannya menjawab, tikus itu malah balik bertanya.“Kenapa aku disini?”

“Tadi kami melihat teman-teman petani melemparmu ke salju. Jadi kami beramai-ramai mengangkatmu kesini. Untung saja kau hanya pingsan,” jawab ratu tikus.

“Ya. Tamu si petani memukulku karena aku ingin memakan daging ayam di meja mereka,” ujar tikus dengan sedih.

“Berarti sejak tadi kau belum makan?” tanya ratu semut. Tikus itu kemudian mengangguk. Ratu semut merasa kasihan melihat keadaannya. Oleh karena itu, ia meminta warga semut untuk membawakan remah-remah makanan yang cukup untuk mengobati rasa lapar si tikus.

“Terima kasih banyak,” ucap tikus sambil menggigit keju yang baru saja ia dapatkan dari para semut. “Aku berjanji akan menanam tanaman sendiri setelah musim dingin. Besok, aku akan pergi ke hutan dan mengumpulkan makanan untuk sementara.”

Seluruh warga semut merasa gembira. Setelah kejadian itu, mereka tidak mengenal tikus pemalas lagi, melainkan tikus yang gigih bekerja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s