I’m Not Mom’s Hater

Mom-and-Son-Hug“Jadi, dapat disimpulkan bahwa kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan,” jelas Bu Lastri, sementara seorang siswa laki-laki tertidur di sudut kelas,  tidak mempedulikan guru fisikanya menyampaikan pelajaran di depan kelas. Walaupun demikian, Bu Lastri tidak menegurnya. Bukan hanya Bu Lastri, guru-guru lain yang masuk ke kelasnya pun sudah terlalu lelah memberi teguran, karena ia tidak pernah mau mendengar.

            Namanya Chris. Beberapa bulan yang lalu, ia tinggal bersama neneknya di Bekasi. Selain bersama nenek, ia juga tinggal bersama ayahnya, sebelum pria yang dikaguminya itu meninggal karena bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton tahun 2009 lalu. Kini, ia tinggal bersama ibunya di Bandung setelah neneknya yang di Bekasi meninggal. Ayah dan ibunya memang sudah bercerai sejak Chris masih duduk di bangku Sekolah dasar, dan Chris memilih untuk tinggal bersama ayah.

            Bu Yasni. Itulah ibunya. Ia merupakan guru mata pelajaran kimia di SMA Kreatif, di mana Chris menuntut ilmu sejak semester pertama kelas dua. Selain mengisi mata pelajaran Kimia, Bu Yasni juga merupakan wali kelas anaknya sendiri.

            Chris adalah anak yang pendiam. Ia tidak terlalu suka berbicara dan bergaul dengan orang lain, selalu saja menyendiri dan tertutup. Ia membenci ibunya karena selama ia tinggal di Bekasi, Bu Yasni tidak pernah datang mengunjunginya. Namun, setiap kali Bu Yasni mengajar kimia di kelas, Chris tetap memperhatikan dan berusaha bersikap sebaik mungkin. Berbeda ketika guru-guru lain yang masuk, Chris pasti lebih sering menggambar kartun di lembar-lembar bukunya, atau bahkan lebih memilih untuk tidur. Setiap kali gurunya menasihati, Chris selalu bersikap seperti tidak mendengar apa-apa. Guru-guru itu merasa tidak enak menghukum Chris. Bukan hanya karena Bu Yasni dikenal baik di sekolah, guru-guru lain seperti Bu Lastri juga maklum atas sikap Chris karena kepergian ayah dan neneknya belum bisa ia terima sepenuhnya.

            Awalnya Bu Yasni tidak mengetahui sikap anaknya yang ternyata hanya baik di depannya saja. Namun setelah beberapa bulan, akhirnya ia diberitahu oleh rekan-rekannya yang masuk ke kelas Chris. Mendengar itu, Bu Yasni berniat untuk menegur anaknya itu sepulang sekolah.

            “Chris,” panggilnya ketika Chris baru pulang kelas sore. Tapi yang dipanggil malah mengabaikan. Ia tetap berjalan menuju kamar.

“Chris, kenapa kamu tidur kalau gurumu mengajar?!” Suara Bu Yasni terdengar semakin keras.

Laki-laki bertubuh kurus itu berhenti melangkah. Kemudian ia menatap ibunya dengan dingin selama beberapa detik, lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun. Bu Yasni hanya bisa diam seribu bahasa melihat anaknya yang masih dendam terhadap dirinya itu.

Saat pembagian rapor semester pertama, siapa menyangka, Chris dipanggil ke depan aula sekolah karena ia merupakan salah satu siswa yang juara dari kelasnya, yakni juara ketiga. Mendengar itu, mulailah terdengar bisik-bisik dari seluruh kelas yang mengatakan bahwa anak itu tidak pantas mendapatkan juara. Chris memang terkesan malas karena selalu tidur di kelas. Padahal teman-temannya tidak tahu bahwa ia selalu merekam penjelasan dari gurunya dan mengulang pelajaran di rumah selama ia mengurung diri di kamar.

“Chris, jangan terlalu bangga dapat juara tiga ya! Kalau bukan karena Bu Yasni yang jadi wali kelas kita, nggak mungkin kamu bisa dapat juara!” ujar Juan ketika melihat Chris duduk di depan kelas dan memandangi rapornya sambil tersenyum-senyum.

Chris menatap Juan sekilas dengan tatapan kebencian, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat pulang sekolah, ia bertemu dengan beberapa guru yang tidak masuk ke kelasnya, karena mereka memang hanya mengajar di kelas satu. Mereka adalah Bu Jessika, Bu Intan, dan Pak Dino.

“Chris, sini dulu!” panggil Pak Dino. Chris berjalan mendekat. “Kamu dapat juara tiga ya?”  tanya guru olah raga itu. Chris hanya mengangguk dalam diam.

“Bukannya kata murid-murid lain kamu suka tidur di kelas ya?” Bu Jessika menimpali.

Anak laki-laki itu terdiam sambil menunduk.

“Bu Yasni wali kelasmu ya?” tanya Bu Intan. Pertanyaan terakhir itu membuat Chris tersinggung. Ia mengerti kemana arah pembicaraan itu. Setelah selesai mendengar kalimat-kalimat yang menyakitkan hati itu, ia pulang dengan langkah kesal sambil mengepalkan tangan kanannya.

Busssh! Ia menghempaskan ransel ke atas sofa. Bu Yasni yang sejak tadi menunggu kedatangannya, kaget mendengar itu.

“Eh, Nak… kamu udah pulang?” ujarnya sambil mendekat ke arah Chris.

Laki-laki yang masih memakai seragam putih abu-abu itu seketika berhenti lalu menatap tajam ke arah ibunya.

“Ini semua gara-gara Mama!” teriaknya tepat di depan wajah Bu Yasni. “Karena Mama bikin aku jadi juara tiga, aku jadi bahan bully-an semua orang! Mama tahu kalau aku nggak pantas dapat juara tiga kan?!! Mama tahu kalau aku bisanya cuma tidur di kelas kan?! Trus kenapa Mama malah bikin aku jadi juara tiga!” Wajahnya merah karena marah. Sementara tatapannya masih setajam elang dan penuh dengan kebencian.

Bu Yasni tersentak mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut anaknya itu. Matanya kini mulai berkaca-kaca. “Tapi dari nilai-nilai yang dikumpulkan semua guru yang masuk ke kelasmu, kamu memang pantas mendapat juara tiga, Nak.. nilai-nilaimu tinggi. Mama cuma bikin rata-ratanya aja..”

            Sekali lagi, Chris menatap ibunya dengan marah. Dadanya naik turun karena nafasnya tidak stabil. Beberapa detik kemudian, ia melangkah dengan cepat meninggalkan ibunya. Wanita itu berdiri dengan tatapan kosong, dan tersadar ketika terdengar suara pintu kamar ditutup dengan keras.

            Di tengah kemarahannya, Chris pun memilih untuk tidur. Sudah empat jam ia mencoba menutup mata, tapi tetap saja ia tidak dapat tidur dengan tenang. Bayangannya terus melayang pada sosok ibu yang dibuatnya menangis tadi siang. Ia menatap langit-langit kamar dan berpikir apakah ia harus minta maaf pada ibunya atau tidak.

            Cklek.

Seseorang membuka pintu kamar. Itu pasti ibu, pikirnya, karena memang tidak ada orang lain di rumah itu selain ia dan ibunya. Buru-buru Chris menutup mata dan berbaring membelakangi pintu kamar. Ia berpura-pura tidur. Bu Yasni yang mengira anaknya itu memang sudah tidur, masuk ke dalam kamar dan duduk di atas tempat tidur, menoleh ke arah Chris.

Ia mengelus kepala anaknya itu. “Mama sayang sama kamu. Kenapa sikap kamu dingin sama Mama? Banyak alasan yang nggak kamu tahu kenapa Mama sama Papa cerai. Kamu juga jangan dendam karena Mama nggak pernah jengukin kamu ke Bekasi dulu. Itu karena Mama sakit.. untunglah sekarang kamu udah di sini, jadi Mama nggak pernah ngerasa sakit lagi.” Chris tertegun mendengar  ucapan ibunya itu. Ia juga bisa merasakan air mata ibu jatuh ke keningnya ketika ibu mencium kening itu.

            Liburan semester pertama telah usai. Selama liburan, Chris hanya mengurung diri di rumah.  Sudah seminggu awal semester kedua dimulai, tetapi wajah Chris tidak pernah terlihat di kelas, padahal ia selalu berangkat lebih awal dari Bu Yasni dan memakai seragam SMA. Lima hari kemudian, Chris bahkan tidak kembali ke rumah. Bu Yasni pun jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena memikirkan anaknya itu. Akhirnya Deva, teman sekelas Chris mengatakan bahwa Chris ada di warnet, dan menginap di sana. Bu Yasni yang terbaring lemah itu pun memaksakan diri menjemput Chris di warnet ditemani beberapa muridnya.

            “Sayang, ayo pulang..”

            “Mama apa-apaan sih! Aku nggak suka di rumah! Anggap aja Mama nggak punya anak lagi!” bentak Chris, sampai perhatian orang-orang di warnet itu tertuju padanya. Tapi ia sama sekali tidak peduli.

            Sudah lama Bu Yasni memohon agar anaknya itu pulang, tetapi usahanya tidak berhasil. Sampai akhirnya ia merasa lututnya lemas dan ia tidak sadarkan diri. Chris hanya berdiri dan melihat orang-orang mengangkat tubuh ibunya.

            Saat membuka mata, Bu Yasni sadar bahwa ia sudah ada di rumah sakit. Ia menangis dan terus mencari Chris. Deva dan beberapa murid lain berusaha menghibur, tetapi tetap saja mereka gagal. “Sebenarnya Ibu sayang sama Chris. Tapi entah kenapa sikapnya selalu dingin sama Ibu. Waktu Chris masih kecil, Ibu terkena TBC, dan itu membuat Chris hampir tertular. Ayahnya yang terlalu sayang sama Chris marah-marah sampai akhirnya menceraikan Ibu karena penyakit Ibu ini. Tapi Chris tidak tahu itu. Yang dia tahu, Ibu adalah orang tua jahat yang tidak pernah memperhatikannya,” kata Bu Yasni dengan siara tertelan.

            Ia terus menangis, hingga membuat seisi ruangan tempat ia merawat terharu mendengarnya. Tangisnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan pintu.

            Anak itu berlari ke arah Bu Yasni, lalu memeluknya dengan erat sambil menangis. “Maafin Chris, Ma.. selama ini Chris terus berprasangka buruk sama Mama..”

            Dengan susah payah, Bu Yasni menggerakkan tangannya yang masih berada di bawah kontrol jarum infus, untuk memeluk anaknya itu. “Mama juga sayang sama kamu..”

sumber foto: http://theconsciousparentblog.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s