Home Bitter Home

divorce-effects-on-childrenSeperti biasa, tiap pagi rumah besar itu selalu diselimuti suasana yang sibuk. Padahal di dalamnya hanya ada sepasang suami istri dan dua orang pembantu. Pak Gunawan atau yang sering disebut dengan Pak Gun, mengurus perusahaan mobil warisan keluarga. Sementara istrinya, Bu Nita memiliki usaha butik terkenal yang berpusat di Jakarta. Walau keduanya merupakan pasangan suami istri, mereka hampir tidak pernah berbincang-bincang untuk sekedar berbagi cerita. Keduanya terlalu sibuk. Apalagi sejak 8 tahun yang lalu, mereka membuka cabang kedua usaha tersebut di luar negeri.

Mereka sudah menikah selama hampir 30 tahun, dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Vino. Sejak SMA, Vino tinggal dan bersekolah di New York. Sudah hampir 10 tahun ia tidak pulang ke Indonesia. Namun selama berada di sana, ia tidak pernah dikunjungi oleh kedua orang tuanya, meskipun sebenarnya Pak Gun maupun Bu Nita cukup sering pergi ke New York. Tapi itu hanya untuk kepentingan bisnis, tidak ada waktu untuk kunjungan. Mereka hanya berkomunikasi dengan Vino lewat telepon, itu pun hanya sebentar, sekedar menanyakan apakah uang Vino masih cukup atau tidak. Itulah sebabnya, siapa pun yang mengenal mereka, selalu beranggapan bahwa keluarga itu bukanlah sebuah keluarga!

Setelah Bu Nita pergi bekerja, sekarang giliran Pak Gun yang meminta supir untuk mengantarkannya ke kantor. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Pak Gun melihat seorang pemulung mengacak-acak tempat sampah di halaman rumahnya. Melihat itu, ia pun marah.

“Hey!! Ngapain kamu di sini?” bentaknya. Pemulung itu kaget, lalu menghentikan aktivitasnya. Kini mata Pak Gun melotot ke arah satpam yang berdiri di sana. “Kamu lagi! Ngapain ngasih orang miskin kayak gini masuk ke dalam?”

“Ma..maaf, Pak.. saya hanya kasihan..” jawab satpam itu dengan segala ketakutannya.

“Kasihan? Kamu mau saya pecat?!” Ancamnya dengan galak. Satpam itu pun merasa takut, lalu mengusir orang yang dimaksud majikannya. Pemulung itu pun segera keluar melalui pintu gerbang mewah yang bertuliskan “Pengemis, pemulung, dan peminta sumbangan dilarang masuk!”

Sore harinya ketika Pak Gun pulang dari kantor, ia melihat pemulung itu lagi, masih dengan kegiatan yang sama, mengacak-acak tempat sampah. Pak Gun melangkah cepat ke arah pemulung itu. “Heh? Ngapain lagi kamu di sini?” tanyanya dengan kasar. Matanya melotot, kumis tebal menyempurnakan kesan amarahnya. “Pergi sana!”

Pemulung itu hanya menunduk diam, lalu pergi. Pak Gun melangkah masuk ke dalam mobilnya, kemudian menutup pintu mobil itu dengan geram.

“Halo, Vino. Duit kamu masih cukup?” tanya Pak Gun sesampainya di rumah.

“Iya, Pa,” jawab Vino singkat dari seberang telepon.

“Gimana S-2 kamu?” tanya Pak Gun lagi.

“Lancar, Pa,” suara Vino terdengar malas. Percakapan via telepon itu selalu berlangsung singkat.

Di sore hari yang lain, mobil Pak Gun mendadak mogok di tengah jalan, padahal saat itu cuaca mulai mendung, sepertinya akan hujan. Dengan kesal ia keluar dari mobil, lalu meminta supirnya memanggil montir dari bengkel yang tidak jauh dari tempat itu. Benar dugaan Pak Gun, beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Ia lebih memilih berteduh di bawah atap kecil sebuah halte bus di pinggir jalan itu daripada harus berteduh di dalam mobilnya yang pengap.

Sudah lima belas menit Pak Gun menunggu di halte, namun hujan tak kunjung reda, supirnya pun belum juga kembali. Tiba-tiba seseorang datang dan ikut berteduh di sana. Orang itu tersenyum ramah ke arah Pak Gun yang menatapnya dengan heran. Pak Gun memang kaget. Bertemu dengan pemulung yang ia usir beberapa hari yang lalu bukanlah harapannya. Ia masih mengamati pemulung itu, pria kotor yang usianya kira-kira sebaya dengan putra Pak Gun sendiri. Wajahnya tampak lelah. Keringat di dahinya bercampur dengan air hujan. Kulitnya tidak hitam legam seperti pemulung lain. Hanya saja kulitnya yang putih itu tertutup oleh bekas lumpur.  Bajunya basah kuyup karena hujan. Ia datang tanpa alas kaki sambil membawa sampah hasil pungutannya. Pikiran Pak Gun mulai diselimuti aura negatif. Bagaimana kalau nanti pemulung ini berbuat jahat. Bagaimana kalau nanti dia balas dendam karena kemarin kuusir.. pikirnya.

Karena tidak bisa menahan pikiran negatif itu lagi, Pak Gun pun berdiri. Ia bergegas pergi, menembus derasnya hujan, ia takut kalau pemulung itu benar-benar  akan melukainya. Tiba-tiba.. BRUKKK! Tubuh Pak Gun terkulai lemah di tengah jalan, ternyata sebuah mobil yang sedang melaju kencang baru saja menabraknya. Melihat itu, si pemulung yang masih berteduh di halte pun kaget. Wajahnya mendadak pucat. Setelah sadar dari kekagetannya, ia berlari ke arah Pak Gun yang terbaring  di antara air hujan yang jatuh membasahi bumi.

“Maaf, Bu.. Ibu harus segera ke RS Sehati, suami Ibu kecelakaan!” kata pemulung itu setibanya di rumah sakit. Entah bagaimana ia bisa tahu bahwa yang sedang ia telepon memang benar istri Pak Gun. Wanita di seberang telepon kaget luar biasa, ia tidak dapat berkata-kata lagi, sambungan telepon itu pun terputus.

Si pemulung sudah menunggu beberapa lama. Wajahnya masih saja pucat, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Pak Gun.

“Pak Gun kehilangan banyak darah, beliau butuh donor,” kata seorang Dokter.

Yang diajak bicara pun terdiam, menggenggam HP Pak Gun di tangan kanannya dengan kuat. “Apa golongan darahnya, Dok?”

“AB,” jawab Dokter itu singkat.

“Golongan darah saya AB, Dok. Saya akan mendonorkan darah saya, dengan syarat Dokter tidak boleh memberitahu siapa pun,” katanya. Dokter itu kemudian mengangguk. Namun di luar dugaan mereka, Bu Nita yang sudah tiba ternyata mendengar percakapan itu.

Keesokan siangnya, Pak Gun sudah sadar, setelah mengalami masa kritis dan menerima transfusi darah. Bu Nita pun menceritakan apa yang ia dengar di hari sebelumnya, bahwa seorang pemulung telah mendonorkan darah untuknya. Mendengar itu, Pak Gun kaget. Ia yakin pemulung yang dimaksud oleh istrinya pastilah pemulung yang di berada di halte kemarin sore. Mendadak Pak Gun menyesali sikapnya. Ia benar-benar ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih kepada pemulung itu. Untunglah semalam Bu Nita sempat mengikuti pemulung itu secara diam-diam, jadi ia tahu di mana tempat tinggalnya.

Walaupun masih sakit, Pak Gun tetap memaksakan diri untuk menemui si pemulung. Dengan susah payah, ia turun dari mobil dibantu oleh istri dan supirnya. Ia kaget melihat pemandangan di depannya. Rumah-rumah kumuh berjejer di sana, anak-anak kecil berlari-lari tanpa alas kaki, bahkan ada yang hanya memakai celana, tanpa memakai baju.

Mereka berjalan melewati rumah demi rumah, walaupun bagi Pak Gun rumah-rumah di pemukiman itu sebenarnya tidak pantas disebut rumah. Tanpa disangka-sangka, mereka pun bertemu dengan pemulung yang mereka cari dengan cepat. Pak Gun mendekati pemulung yang berdiri di depannya itu. “Terima kasih Nak.” ucapnya. Pemulung itu tersenyum. Melihat kondisi Pak Gun yang masih sakit, ia mengajak mereka untuk duduk.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Bu Nita. Pemulung itu tidak menjawab. “Nama kamu siapa?” Pak Gun menimpali dengan suara lembut.

“Vino, Pak,” jawab pemulung itu sambil menunduk.

“Nama kamu persis seperti nama anak saya. Siapa Nama lengkapmu?”

“Vino Gunawan.” Jawab si pemulung. Mendengar nama itu Pak Gun dan Bu Nita mendadak kaget. “Nama kamu benar-benar persis seperti nama anak kami,” kata Bu Nita sambil tertawa kecil. Namun si pemulung yang bernama Vino itu tidak menjawab, ia hanya menunduk selama beberapa saat… kemudian mulai menangis.

“Ini aku Vino, Ma! Pa!” katanya kemudian di sela-sela tangisan. “Vino anak kalian!” isaknya. Pak Gun dan Bu Nita pun kaget untuk kedua kalinya.

“Nggak mungkin! Kamu pembohong! Ngaku-ngaku anak kami! Kamu itu hanya pemulung! Vino anak kami sekarang kuliah S-2 di New York!” Mendadak Bu Nita naik pitam, ada orang yang mengaku-ngaku jadi anaknya.

Vino yang masih menangis kemudian meninggalkan mereka, lalu kembali dengan sebuah foto. Ia menunjukkan foto masa kecilnya. Pak Gun dan Bu Nita heran melihat foto diri mereka di sana. Namun tetap saja mereka belum percaya.

“Aku nggak kuliah S-2 di New York, Ma! Setelah lulus S-1 dua tahun yang lalu, aku kembali ke Indonesia, kangen Papa sama Mama! Tapi aku lihat Papa sama Mama masih terlalu sibuk! Makanya aku nggak ke rumah! Lagian..Papa sama Mama nggak pernah kepikiran buat ngunjungin aku kan?! Bahkan Papa sama Mama bisa lupa sama wajah anak sendiri!” Vino mengeraskan suaranya. “Selama ini, aku Cuma pura-pura jadi pemulung biar bisa ngelihat Papa sama Mama. Aku ngerasa, ini bakal sama aja kalaupun aku di tinggal dirumah! Aku udah bikin panti asuhan yang nggak jauh dari sini. Aku juga sering main ke sini, walaupun lingkungannya memang kumuh. Tapi perhatian mereka…bikin aku terasa kayak punya keluarga besar.. lebih dari Papa sama Mama!” Air mata Vino membanjiri pipinya. Orang tua yang di depannya benar-benar kaget mendengar penjelasan itu.

Mendadak Pak Gun melihat tahi lalat berjejer tiga di leher anak laki-laki itu. “Vino…anakku.. maafin Papa sama Mama Nak!!” tangisnya. Ia berjalan dengan susah payah menghampiri Vino untuk memeluknya. Bu Nita pun tidak bisa membendung air mata. Dalam hati keduanya berjanji, untuk lebih memperhatikan sesama anggota keluarga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s