Dave…

40a921481fa2dcc8150fc21e2e135f22--sad-anime-girl-anime-boysPagi ini  mentari menyapa dengan penuh keceriaan. Tapi aku berdiri dalam kebekuan, menatap gedung di depanku dengan gugup. Aku menghela nafas panjang dan kulangkahkan kakiku menembus pintu gedung itu.
Namaku Winda. Ini merupakan hari pertamaku mengikuti bimbingan belajar intensif pra SBMPTN di salah satu lembaga bimbingan belajar ternama di kota Medan. Aku merogoh saku kananku dan mengambil selembar kertas lalu membacanya.
“Lantai 4 ruang D, 3 IPS 083.” Itu kelasku. Dengan menyusuri tangga hingga lantai 4, akhirnya aku sampai di ruang D. Aku duduk di salah satu kursi di sudut ruangan. Teman-teman baru mulai mengampiriku.
Pelajaran berlangsung dan selesai tepat pukul 11.00 WIB. Saatnya jadwal diskusi di lantai 1. Aku dan Irma, salah satu teman yang baru kukenal, bergegas turun menuju ruang diskusi.
BRUKKK. Seorang cowok keturunan sipit berkacamata menabrakku. Tanpa berkata-kata, ia meninggalkan kami bersama buku-buku yang masih berserakan di anak tangga. Aku hanya diam, merapikan kembali buku-bukuku.
Hari demi hari kulalui dengan sangat menyenangkan.
“Silakan ke mading untuk melihat informasi tentang try out pra SBMPTN pertama.” Terdengar pengumuman dari Customer Service (CS) melalui speaker di sudut ruang diskusi. Aku dan teman-temanku bergegas menuju mading di dekat pintu masuk. Banyak siswa telah berkerumun di sana untuk melihat informasi yang dimaksud oleh CS. Dengan menyelip-nyelip, akhirnya aku berhasil mencapai mading.
Baru saja aku memusatkan perhatian ke mading untuk membaca tulisan di dalamnya, tiba-tiba jari tangan sesorang mencolek pundakku dua kali. Aku mengalihkan pandangan ke arah orang itu. Cowok Chinese berkacamata yang menabrakku beberapa hari yang lalu menatapku dengan tatapan lucu bin aneh. Ia kemudian menunjuk ke bawah. OMG! Aku menginjak sepatunya!
“Eh..maaf,” ucapku sembari mengangkat kakiku yang tengah menimpa sepatu yang sedang ia kenakan. Ia hanya meresponku dengan senyuman, seolah memamerkan kedua lesung pipinya . Tanpa berkata-kata, ia meninggalkanku berdiri di depan mading.
Di ruang diskusi, aku melihat cowok Chinese berkacamata itu lagi.
“Mirip sama…Yoshua!” pikirku. Yoshua adalah cowok keturunan Chinese yang juga berkacamata, pemenang English Debating Competition se-Sumut tahun lalu. Aku sangat mengaguminya, terutama dalam kecerdasannya mengolah kata-kata dalam bahasa Inggris dengan sangat cepat. Semakin lama kuperhatikan, wajah Yoshua ‘palsu’ di depanku ternyata lebih manis dari yang kukira.
Waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba. Akhirnya aku tahu nama asli ‘Yoshua KW’ ini dari absen yang diisinya pada saat diskusi bersama. Ia adalah David Yoshua Suwanto. Aku yakin kalian akan berpikiran bahwa ia adalah Yoshua asli, bukan sekedar KW. Eits, bukan. Aku yakin ia bukanlah Yoshua yang pernah kukenal sebelumnya. Hanya kebetulan namanya yang sama.
“Ciee..” bisikan Irma terdengar genit di telingaku.
“Kenapa sih?” tanyaku pura-pura bingung.
“Lagi merhatiin dia ya? Cie,” godanya lagi.
“Ih nggak kok. Aku liat dia mirip aja sama temen aku,” jawabku santai.
Selesai jadwal diskusi, aku menceritakan semua yang kuketahui tentang Yoshua pada Irma, berharap temanku yang satu itu terhindar dari pikiran yang tidak-tidak mengenai caraku memperhatikan David, dan tampak jelas dari ceritaku bahwa aku memang mengagumi sosok Yoshua.
“Dave..” panggil seorang cewek Chinese berambut pirang. Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara. Kelihatannya ia memanggil seseorang yang duduk di sudut ruang diskusi. Itu David, yang dipanggil dengan sebutan Dave.
Aku memperhatikannya berbincang-bincang dengan si cewek berambut pirang. Tampaknya Dave tidak begitu banyak berbicara. Ah, entah mengapa akhir-akhir ini aku memang sering memperhatikannya. Bahkan ia juga sering memergokiku senyam-senyum memandang wajahnya. Hey, this is my first time. I’m feeling so deep. Is this what the people called LOVE?
Pengumuman SNMPTN tiba.
Pukul 17.10 WIB. “Thanks God, aku lulus di Farmasi-USU.” Demikian isi status salah satu teman SMA-ku.
“Giliranku..” ucapku dalam hati. Dan.. “Selamat anda diterima di jurusan Ilmu Komunikasi-Universitas Gadjah Mada.” Kalimat itulah yang terpampang di layar handphoneku. “Thanks God,” ucapku pelan namun dengan nada kebahagiaan.
Keesokan hari di tempat bimbel, teman-temanku memberi selamat atas kelulusanku di SNMPTN.
“Kamu ngeliat cucunya Sun Yat Sen, gak?” tanyaku pada Irma.
“Hah? Cucunya Sun Yat Sen?” tanya Irma kebingungan, Ia tidak dapat menahan tawa lagi.”Hahaha sejak kapan cucunya pahlawan di buku sejarah bimbel di sini?”
“Ihh..itu lo,” jawabku malu-malu.
“Siapa? Dave? Cie cie.. ada yang lagi kecarian ni yee,” godanya. Irma seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku menunduk malu-malu. “Gak tau deh, hari ini aku belum liat dia tuh,” sambungnya.
“Ah, yaudah deh,” alihku. “Ke CS yuk. Katanya ada try out pra SBMPTN di JW.Marriot lo. Mau daftar gak?” ajakku.
“Eh.. kamu kan udah lulus, ngapain ikut try out lagi?” tanya Irma.
Aku hanya tersenyum dan menarik Irma ke ruangan Kak Orthy, Customer Service yang membagikan formulir pendaftaran.
Ketika kak Orthy memberiku selembar formulir pendaftaran, ada tangan yang meraih lembaran itu selain tanganku.
“Eh..maaf,” ucapnya. Itu Dave. Rasanya hatiku berbunga-bunga melihatnya pagi ini. Bahkan, aku bisa mendengar suaranya. And this is the first time I can hear his beautiful voice.
“Eh..ambil aja,” ujarku, membiarkan Dave mengambil formulirku. Ia tersenyum. Hanya itu yang ia lakukan setiap kali bertemu.
Keesokan paginya.
Aku menunggu Irma di ruang diskusi agar bisa pergi bersama untuk TO di JW.Marriot. Seseorang mengambil posisi di samping tempat dudukku dan meletakkan buku bertuliskan “Hong Che”, kutebak itu mungkin namanya. Seorang lagi duduk di depanku, batas kami hanya sebuah meja. Ketika kulihat, ternyata.. Dave. Ia tidak memperhatikanku. Itulah kesempatanku untuk bisa memperhatikannya lebih dekat, sampai akhirnya ia menoleh padaku. Ia mungkin menyadari bahwa aku telah memandanginya sejak tadi. Aku benar-benar salah tingkah saat ia menatapku dengan bingung. Aku pun mengalihkan pandangan ke arah buku di depanku yang benar-benar tak kumengerti apa maksud judul buku itu. Apa ini tulisan Jepang? Atau Cina? Entah mengapa buku itu tiba-tiba muncul di depanku.
“Boleh pinjam penghapus?” tanya cowok di sampingku dengan nada datar. Aku mengangguk. Setelah selesai, ia mengembalikan penghapus milikku. “Thanks,” ucapnya.
Aku memang pemalu. Tapi kali ini aku memberanikan diri menanyakan siapa namanya, siapa tahu ia bisa menjadi teman baik. “Namamu Hong Che?” tanyaku dengan gugup. Iya hanya mengangguk datar. Aku memang sering melihatnya bersama Dave di ruang diskusi, tapi perhatianku selalu lebih fokus kepada Dave. Yang ku tahu ia cowok Chinese berkacamata tebal yang kaku, sangat pendiam, dan selalu asyik dengan buku eksaktanya.
Tak lama kemudian, Irma datang. Aku menarik tas di atas meja dan..Opss, aku menumpahkan air di dalam gelas di atas meja hingga membasahi buku-bukuku. Entah mengapa rasanya benda-benda ajaib itu yang sebelumnya tidak ada tiba-tiba muncul di atas meja dan membuat suasana menjadi kacau. Tanpa basa-basi, Hong Che merogoh tas dan menyodorkan beberapa lembar tisu, masih dengan ekspresi datar. Aku meraih tisu itu dan mengeringkan bukuku.
“Eh Irma mau ke Marriot ya?” tanya seorang cowok berparas India ketika Irma datang dan menghampiri meja tempat kami duduk. Buku yang dipegang cowok itu bertuliskan “Dewa Guntara”, pastilah itu namanya.
Irma mengangguk bersemangat sambil tersenyum. “Bareng yuk!” ajak Dewa.
“Yaudah kita bareng aja,” Dave menyambung. Aku sering melihat ketiga cowok di dekatku ini berada di tempat yang sama, seperti orang yang sudah berteman lama.
Kami bergegas keluar dan memberhentikan angkot. Seketika semua terasa berubah, kami berlima terlihat lebih kompak. Sampai selesai TO, kami duduk di taman depan Marriot. Aku memperhatikan Hong Che. Sesekali tatapan kami bertabrakan, ia pun terlihat sering melempar senyuman ke arahku. Ia tidak sekaku yang kukira. Aku mulai menyukainya. Dan mulai kusadari, sejak tadi aku lebih sering memperhatikan Hong Che dibanding Dave. “Mungkin kamu kagum sama Yoshua, trus karna Yoshua mirip sama Dave, kamu ngerasa Dave itu adalah Yoshua. Jadi bukan berarti kamu beneran suka sama Dave kan?” Mulai terngiang di telingaku kata-kata yang pernah diucapkan Irma. Mungkin Irma benar. Mungkin feelingku yang sesungguhnya ada pada Hong Che.
“BBM cewek lo nih,” kata Dewa sambil menyerahkan BB Hong Che yang sejak tadi diutak-atiknya. Apa? Cewek? OMG. Aku salah orang. Baru sedetik aku menyadari rasaku terhadap Hong Che, dua detik kemudian aku baru tahu kalo dia udah punya pacar.
Aku menunduk lemas. Sampai akhirnya kami berjalan lagi menyusuri trotoar untuk memberhentikan angkot, aku tetap merasa kurang bersemangat. Aku merasa seseorang memperhatikanku. Aku tidak sadar bahwa sejak tadi Dave dan aku berjalan berbarengan.
“Wajah kamu kok jadi beda gitu?” lembut suaranya mengawali percakapan kami. Aku merespon dengan gelengan singkat. Hong Che, Dewa, dan Irma telah berjalan jauh di depan kami. Langkahku terhenti, Dave menatapku dengan tatapan yang tajam menembus kacamatanya. Ia tersenyum seolah mencoba mengembalikan moodku. Padahal mungkin ia tidak bermaksud melakukan itu. Ia memang orang yang mudah tersenyum dan membuat kita merasa sangat terhibur. Penampilannya yang sangat sederhana menunjukkan bahwa ia seorang yang tulus.
“Eh kamu lulus SNMPTN kan? Berarti bentar lagi kamu gak bimbel dong, soalnya kamu harus daftar ulang ke Jogja, kan?” tanya Dave, tetap dengan senyumannya. Aku hanya tersenyum, diam seribu bahasa. Kujawab dalam hati.. “Iya Dave. Sebentar lagi aku berhenti bimbel. Aku gak akan liat kamu lagi..”
Aku sama sekali tidak mengerti perasaanku. Aku benar-benar nyaman di dekat Dave. Bahkan sekarang aku mulai berubah pikiran dan tidak setuju dengan ucapan Irma sebelumnya. Aku sadar aku benar-benar menyayangi Dave. Orang yang selama ini membuatku semangat di bimbingan belajar walaupun mungkin Dave tidak tahu bahwa ia telah melakukannya. Dua hari lagi aku berangkat ke Jogja dan meninggalkan kota Medan. Apa mungkin suatu saat aku masih punya kesempatan bertemu dengan Dave lagi, walaupun pada akhirnya ia tidak akan pernah tahu apa isi hatiku yang sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s